Rabu, 05 Desember 2012

jurnal III


Nama                   : Erni Wati
NPM                   : 11206157
Jurusan                : Manajemen
Judul                   : Analisis Antrian Pelayanan Pengambilan Obat Di Loket Obat Pada Puskesmas
Kecamatan Tambun Selatan
Penerbit              : Universitas Gunadarma 2009

Latar Belakang Masalah
Sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang banyak, Indonesia memiliki berbagai permasalahan. Salah satunya adalah masalah antrian dalam sistem jasa pelayanan, baik pada lembaga pemerintah maupun lembagaswasta. Antrian timbul karena banyaknya individu yang membutuhkan jasa pelayanan pada waktu yang bersamaan, selain itu juga dapat disebabkan oleh terbatasnya sumber daya manusia dalam sistem jasa pelayanan. Sebagai akibatnya masyarakat/pelanggan harus menunggu beberapa waktu dalam satu waktu untuk menunggu giliran agar dapat mendapatkan pelayanan.

Bekasi yang merupakan salah satu kota di Indonesia dengan jumlah penduduk yang banyak, sering kita jumpai masalah-masalah antrian seperti antrian pembelian dalam membeli karcis kerata api di loket, antrian pada loket-loket pembayaran telepon, antrian mobil saat mengambil karcis tol, antrian para nasabah untuk menabung dibank, antrian pengambilan obat diloket obat seperti yang terjadi pada Puskesmas Kecamatan Tambun Selatan, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Proses antrian menjadi salaj satu hal yang sangat penting, antrian yang lama dan panjang akan sangat membosankan dan merugikan masyarakat/ pelanggan baik dari segi waktu maupun dari segi biaya.

Untuk mengurangi tingkat ketugian yang timbul dari antrian, maka dapat diterapkan salah satu metode dari beberapa metode antrian yang ada. Dengan menerapkan metode antrian, pembelian jasa dapat memperpendek garis antrian yang timbul akibat dari fasilitas pelayanan yang kirang memadai.

Berdasarkann hasil uraian diatas telah mendorong penulis untuk mengambil judul tentang “ANALISIS ANTRIAN PELAYANAN PENGAMBILAN OBAT DI LOKET OBAT PADA PUSKESMAS KECAMATAN TAMBUN SELATAN”.

Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi perumusan masalah dari penulisan ilmiah ini :
1.       Bagaimana proses antrian pada Puskesmas Kecamatan Tambun Selatan dengan menggunakan metode antrian Multi Chanel Single Phase pada hari kerja ?
2.       Berapa jumlah loket yang harus dioperasikan agar pelayanan optimal ?
Batasan Masalah
Pada bagian ini penulis membatasi masalah pada layanan loket antrian dalam penyarahan dan pengambilan obat oleh pasien.

Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah :
1.       Untuk menganalisis antrian yang terjadi pada loket pengambilan obat di Puskesmas Kecamatan Tambun Selatan.
2.       Untuk menentukan jumlah loket yang harus dioperasikan pada hari kerja.

Metodologi Penulisan
Objek Penulisan
Penelitian dilakukan pada Puskesmas Kecamatan Tambun Selatan yang berlokasi di Jl. Sultan Hasanudin No. 5 Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah pasien di loket pengambilan obat pada Puskesmas Kecamatan Tambun Selatan.

Data/Variabel
Dalam penulisan ilmiah variabel yang diteliti adalah tingkat kedatangan rata-rata pasien (λ), waktu pelayanan rata-rata (1/μ), dan jumlah fasilitas pelayanan (S).

Metode Pengumpulan Data
Adapun metode penulisan yang digunakan :
1.       Observasi, peneliti mendatangi objek yang bersangkutan untuk mendapatkan data yang diperlukan.
2.       Wawancara, peneliti mengadakan tanya jawab dengan salah satu karyawan untuk mendapatkan data.

Alat Analisis yang Digunakan
Dalam perhitunagn antrian ini alat analisis yang digunakan oleh penulis adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan metode Multi Chanel Single Phase, yaitu suatu metode yang biasa digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan (server) yang dialiri aliran tunggal.


jurnal II


Nama                 : Bobi Ade Dermawan
NPM                  : 10207213
Jurusan               : Manajemen
Judul                   : Analisis Antrian Pelayanan Pengambilan Obat Diloket Obat Pada Puskesmas Cabang
Bekasi Jaya Kecamatan Bekasi Timur
Penerbit              : Universitas Gunadarna 2010

Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mengalami fenomena menggu. Sangat menyanangkan jika kita dapat diberi pelayanan, atau hal lainnya, tanpa “nuansa” kehalusan untuk menunggu. Tetapi baik kita menyukai atau tidak, menunggu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, dan yang kita harapkan hanyalah agar ketidaknyamanan ini dapat dikurangi.

Antrian dalam bahasa Inggris disebut Waiting Line adalah keadaan dimana seorang individu harus menunggu giliran untuk mendapatkan jasa pelayanan. Antrian tersebut timbul karena banyak individu yang membutuhkan jasa pelatanan pada waktu yang bersamaan, sebagai akibatnya pemdatang harus menunggu giliran agar dapat mendapatkan pelayanan.

Antrian yang sangat enjang dan terlalu panjang dan terlalu lama untuk memperoleh giliran pelayanan memang sangat menyabalkan dan membosankan serta dapat juga merugikan bagi pelanggan baik dari segi waktu maupun dari biaya. Oleh karena itu, seharusnya sistem antrian ini dapat dirancang lebih cepat dan efisien agar meningkatkan pelayanan pelanggan dengan menggunakan teori antrian.

Sistem antrian yang sering terjadi dan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari sangatlah banyak. Seperti antrian pada loket-loket transaksi bank, loket-loket pembayaran telepon, antrian untuk membeli tiket bus diterminal, antrian penonton pada gedung bioskop, antrian mobil-mobil di tempat pembayaran tol, antrian pasien-pasien yang menungu giliran mengambil obat diloket obat dan mmasih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Puskesmas Cabang Bekasi Jaya sebagai salah satu pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang berkedududkan di Jl. Mekar Sari No. 75 Kecamatan Bekasi Timur, setiap harinya pasti tidak pernah lepas dari antrian para pasien yang menunggu giliran untuk dapat dilayani oleh Dokter. Setelah itu, mereka harus menunggu giliran untuk mendapatkan obat di loket pengambilan obat. Begitu banyak pasien yang menggu untuk dilayani namun karena puskesmas hanya mempunyai 2 orang karyawan apoteker diloket obat yang disediakan maka terjadi antrian yang panjang dan begitu lama sehingga membuat para pasien menjadi bosan. Oleh karena itu, sistem antrian harus diterapkan di Puskesmas Cabang Bekasi Jaya Kecamatan Bekasi Timur agar meningkatkan pelayanan masyarakat dan menciptakan kedisiplinan dalam antrian.
Dan berasarkan uiaran diatas maka penulis tertarik mengambil judul “ANALISIS ANTRIAN PELAYANAN PENGAMBILAN OBAT DI LOKET OBAT PADA PUSKESMAS CABANG BEKASI JAYA KECAMATAN BEKASI TIMUR”.

Rumusan dan Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penulisan ilmiah ini yaitu Bagaimana proses Antrian pada Puskesmas Cabang Bekasi Jaya dengan menggunakan metode Antrian Muti Chanel Single Phase pada hari kerja dan berapa jumlah loket yang harus dioperasikan agar pelayanan dapat optimal,
Batasan Masalah
Pada bagian ini penulis membatasi pembahsan maslaah pada loket antrian dalam penhyerahan dan pengambilan obat oleh pasien pada bulan Maret tahun 2010

Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ilmiah ini adalah :
1.       Untuk menganalisis antrian yang terjadi pada loket pengambilan obat di Puskesmas Cabang Bekasi Jaya
2.       Untuk menentukan jumlah karyawan apoteker yang harus dioperasikan pada setiap hari kerja

Metode Penelitian
Objek Penelitian
Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah para pasien yang mengantri di loket pengambilan obat pada Puskesmas Cabang Bekasi Jaya.
Data/Variabel
Dalam oenelitian ini variabel yang diteliti adalah :
1.       Tingkat kedatangan rata-rata pasien (λ)
2.       Waktu pelayanan rata-rata (1/μ)
3.       Jumlah pasien (n) dan
4.       Jumlah fasilitas pelayanan (S)

Metode Pengumpulan Data
Adapun metode penulisan yang digunakan adalah sebagai berikut ini :
1.       Metode Kepustakaan (Library Research), yaitu dengan cara mengumpulkan, membeca, mempelajari serta menelaah buku-buku bacaan, surat kabar, majalah, internet dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pembahasan yang penulis tulis.
2.       Observasi, dengan mendatangi objek yang bersangkutan untuk mendapatkan data yang diperlukan.
3.       Wawancara, yaitu dengan mendatangi dan mengajukan pertanyaan pada pimpinan puskesmas tersebut untuk mendapatkan data yang akurat.

Alat Analisis yang digunakan
Dalam perhitungan antrian ini alat analisis yang digunakan oleh penulis adalah analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan metode Multi Chanel Single Phase, yaitu suatu metode yang biasa digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan (server) yang dialiri oleh antrian tunggal.

jurnal I


Nama           : Benny Hilmawan Elhamsyah
NPM             : 11206223
Jurusan         : Manajemen
Judul             : Analisis Antrian Pelayana Pengambilan Obat Pada Puskesmas Kecamatan
Bantar Gebang
Penerbit         : Universitas Gunadarma 2009


Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari seting di jumpa maslah antrian dalam sistem jasa pelayanan, baik pada lembaga pemerintah maupun lembaga swasta. Antrian timbul karena banyak individu yang membutuhkan jasa pelayanan pada waktu yang bersamaan. Hal ini antara lain bisa kita jumpai terutama di kota-kota besar di Indonesia yang disebabkan oleh jumlah penduduk yang besar dan dapat juga disebabkan terbaasnya sumber daya dalam sistem jasa pelayanan dan dunia usaha(bisnis) di Indonesia.

Sistem antrian tersebut dapat terlihat setiap hari seperti antrian pada loket-loket transaksai bank, loket-loket pembayaran telepon, antrian untuk membeli tiket bus diterminal, antrian pada loket-loket pembayran listrik dan masih bayak lagi contoh-contoh lainnya.

Mengantri di suatu loket pembayaran merupakan hal yang wajar terjadi, tetapi bisa menjadi hal yang sangat membosankan serta dapat juga metugikan masyarakat/pelanggan baik dari segi waktu maupun dari segi biaya. Oleh karena itu diperlukan sistem formasi baris penungguan pelanggan jika inin mendapatkan pelayanan disuatu loket pembayaran tersebut.

Dan pelayanan yang diberikan oleh suatu loket pembayaran harus dilakukan seefesien mungkin, karena apabila pelayanan terlalu lama, maka akan memerlukan ongkos yang besar, sebaliknya jika kapasitas pelayanan kurang maka akan terjadi penungguan dalam waktu yang cukup lama, yang akan menimbulkan akibat seperti berkurangnya jumlah pelanggan yang dateng, atau ketidak efisienan karyawan suatu loket pembayaran. Oleh karena itu, penelitian ilmiah ini memberi judul “ANALILIS ANTRIAN PELAYANAN PENGANBILAN OBAT PADA PUSKESMAS KECAMATAN BANTAR GEBANG BEKASI”.


Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Berapa jumlah loket yang harus di operasikan agar pelayanan dapat optimal ?
Batasan masalah :
Pada bagian ini penulis membatasi pada layanan loket antrian dalam pengambilan obat oleh pasien.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penuliasan ilmiah ini adalah :
1.      Untuk menentukan jumlah loket yang harus dioperasi agar pelayanan yang diberikan dapat optimal

Metodologi Penelitian
1.      Objek penelitian
Penelitian dilakukan pada Puskesmas Kecamatan Bantar Gebang yang berlokasi di Jl. Raya Narogong Km 10 no. 75 Bantar Gebang. Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah para pasien yang mengantri di loket penganbilan obat di Pusekesmas Kecamatan Bantar Gebang.
2.      Data atau Variabel
Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah tingkat kedatangan rata-rata pasien (λ), waktu pelayanan rata-rata (1/μ), jumlah pasien (n) dan jumlah fasilitas pelayanan (S).
3.      Metode Pengumpulan Data
Di dalam penyusunan penuliasan ilmiah ini, penelitian memerlukan sumber-sumber data yang erat kaitannya dengan judul penulisan ini. Adapun metode penulisan yang digunakan sebagai berikut :
a.      Studi Pustaka (Library Research)
Mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan judul penulisan ilmiah dan buku catatan selama perkuliahan serta bahan-bahan lainnya yang mendukung penelitian ilmiah ini.
b.      Penelitian Langsung
Yaitu teknik penelitian yang dilakukan secara langsung kepada objek penelitian untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Penelitian yang digunakan pada Puskesmas Kecamatan Bantar Gebang antara lain :
1.      Wawancara (data sekunder)
Penulis mengajukan beberapa pertanyaan kepada pegawai Puskesmas Kecamatan Bantar Gebang untuk memperkuat data yang peneliti lakukan dan yang berhubungan langsung dengan masalah yang akan dibahas.
2.      Observasi
Dengan melakukan pengamatan langsung dan mengumpulkan informasi dari pegawai atau pasien.
3.      Alat Analisis yang digunakan
Dalam perhiitungan antrian ini alat analisis yang digunakan adalah Multi Chanel Single Phase. Multi Chanel Single Phase adalah metode yang digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan yang dialiri oleh antrian tunggal.



 Rumus yang digunakan untuk model M/M/S/I/I


Pembahasan



















Jumat, 16 November 2012

Kepribadian Nilai dan Gaya Hidup


Kepribadian merupakan ciri watak seorang individu yang konsisten yang mendasari perilaku individu. Kepribadian sendiri meliputi kebiasaan, sikap, dan sifat lain yang kas dimiliki seseorang. Tapi kepribadian berkembang jika adanya hubungan dengan orang lain. Dasar pokok dari perilaku seseorang adalah faktor biologis dan psikologisnya. Kepribadian sendiri memiliki banyak segi dan salah satunya adalah self atau diri pribadi atau citra pribadi. Mungkin saja konsep diri aktual individu tersebut (bagaimana dia memandang dirinya) berbeda dengan konsep diri idealnya (bagaimana ia ingin memandang dirinya) dan konsep diri orang lain (bagaimana dia mengganggap orang lain memandang dirinya). Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli.

Nilai
Nilai memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat karena nilai sendiri merupakan ukuran mengenai baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tak pantas. Nilai sangat mencerminkan suatu kualitas pilihan dalam tindakan dalam hal apapun termasuk melakukan pembelian.
Nilai-Nilai Individu
Nilai (value) merupakan kata sifat yang selalu terkait dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu yang menyertai kata tersebut. Nilai adalah sebuah konsep yang abstrak yang hanya bisa dipahami jika dikaitkan dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu. Pengkaitan nilai dengan hal-hal tertentu itulah yang menjadikan benda, barang atau hal-hal tertentu dianggap memiliki makna atau manfaat. Benda purbakala dianggap bernilai karena berguna bagi generasi penerus untuk mengetahui sejarah masa lampau kita. Video tape recorder, meski secara teknis kondisinya masih baik, dianggap manfaatnya sudah hilang karena sudah susah mengoperasikannya mengingat kaset yang seharusnya menjadi komplemen video tape tersebut tetidak bisa lagi diperoleh di pasaran, semuanya tergantikan oleh VCD. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan nilai adalah prinsip, tujuan, atau standar sosial yang dipertahankan oleh seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) karena secara intrinsik mengandung makna.

Gaya Hidup & Pengukurannya
Gaya hidup menurut Kotler (2002, p. 192) adalah pola hidup seseorang di dunia yang iekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya.Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Secara umum dapat diartikan sebagai suatu gaya hidup yang dikenali dengan bagaimana orang menghabiskan waktunya (aktivitas), apa yang penting orang pertimbangkan pada lingkungan (minat), dan apa yang orang pikirkan tentang diri sendiri dan dunia di sekitar (opini). Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya.
Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di identifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya. Adler (dalam Hall & Lindzey, 1985) menyatakan bahwa gaya hidup adalah hal yang paling berpengaruh pada sikap dan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan 3 hal utama dalam kehidupan yaitu pekerjaan, persahabatan, dan cinta sedangkan Sarwono (1989) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup adalah konsep diri. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya (Kottler dalam Sakinah,2002). Menurut Susanto (dalam Nugrahani,2003) gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku. Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain sebagainya.
Menurut Lisnawati (2001) gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisikfisik, mental dan social berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minum-minuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami. Sejalan dengan pendapat Lisnawati, Notoatmojo (2005) menyebutkan bahwa perilaku sehat (healthy behavior) adalah perilaku-perilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan. Untuk mencapai gaya hidup yang sehat diperlukan pertahanan yang baik dengan menghindari kelebihan dan kekurangan yang menyebabkan ketidakseimbangan yang menurunkan kekebalan dan semua yang mendatangkan penyakit (Hardinger dan Shryock, 2001).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Hidup
Menurut pendapat Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.Lebih lanjut Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap, pengalaman, dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi (Nugraheni, 2003) dengan penjelasannya sebagai berikut :
a.Sikap.
Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku. Keadaan jiwa tersebut sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan dan lingkungan sosialnya.
b.Pengalaman dan pengamatan.
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman. Hasil dari pengalaman sosial akan dapat membentuk pandangan terhadap suatu objek.
c.Kepribadian.
Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
d.Konsep diri.
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sudah menjadi pendekatan yang dikenal amat luas untuk menggambarkan hubungan antara konsep diri konsumen dengan image merek. Bagaimana individu memandang dirinya akan mempengaruhi minat terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku.

e. Motif.
Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif. Jika motif seseorang terhadap kebutuhan akan prestise itu besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis.
f. Persepsi.
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.

Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut :
  1. Kelompok referensi. Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Kelompok yang memberikan pengaruh langsung adalah kelompok dimana individu tersebut menjadi anggotanya dan saling berinteraksi, sedangkan kelompok yang memberi pengaruh tidak langsung adalah kelompok dimana individu tidak menjadi anggota didalam kelompok tersebut. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
  2. Keluarga. Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu.Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.
  3. Kelas sosial. Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan. Kedudukan sosial artinya tempat seseorang dalam lingkungan pergaulan, prestise hak-haknya serta kewajibannya. Kedudukan sosial ini dapat dicapai oleh seseorang dengan usaha yang sengaja maupun diperoleh karena kelahiran. Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan. Apabila individu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia menjalankan suatu peranan.
  4. Kebudayaan. Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif , dan persepsi. Adapun faktor eksternal meliputi kelompok referensi, keluarga, kelas sosial, dan kebudayaan. Orang-orang yang berasal dari sub-budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produknya dengan kelompok gaya hidup konsumen. Contohnya, perusahaan penghasil komputer mungkin menemukan bahwa sebagian besar pembeli komputer berorientasi pada pencapaian prestasi. Dengan demikian, pemasar dapat dengan lebih jelas mengarahkan mereknya ke gaya hidup orang yang berprestasi.
Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup sangat berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Untuk merefleksikan image inilah, dibutuhkan simbol-simbol status tertentu, yang sangat berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.
Fenomena ini pokok pangkalnya adalah stratifikasi sosial, sebuah struktur sosial yang terdiri lapisan-lapisan :
v  dari lapisan teratas sampai lapisan terbawah.
v  Dalam struktur masyarakat modern,
v  status sosial haruslah diperjuangkan (achieved)
v  dan bukannya karena diberi atau berdasarkan garis keturunan (ascribed).
Selayaknya status sosial merupakan penghargaan masyarakat atas prestasi yang dicapai oleh seseorang. Jika seseorang telah mencapai suatu prestasi tertentu, ia layak di tempatkan pada lapisan tertentu dalam masyarakatnya. Semua orang diharapkan mempunyai kesempatan yang sama untuk meraih prestasi, dan melahirkan kompetisi untuk meraihnya.








  
Jadi pada kesimpulannya, gaya hidup adalah suatu pola atau cara individu mengekspresikan atau mengaktualisasikan, cita-cita, kebiasaan / hobby, opini, dsb dengan lingkungannya melalui cara yang unik, yang menyimbolkan status dan peranan individu bagi linkungannya. Gaya hidup dapat dijadikan jendela dari kepribadian masing-masing invidu.Setiap individu berhak dan bebas memilih gaya hidup mana yang dijalaninya, baik itu gaya hidup mewah (glamour), gaya hidup hedonis, gaya hidup punk, gaya hidup sehat, gaya hidup sederhana, dsb.
Gaya hidup mewah memang sudah menjadi bagian hidup manusia. Sebagai makhluk sosial,manusia membutuhkan interaksi dengan banyak hal. Manusia memerlukan pemenuhan kebutuhannya yang mencakup sandang,pangan, dan papan. Ketiga hal ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia bergantung pada makanan,pakaian, dan tempet tinggal. Kebutuhan akan ketiga hal tersebut menjadikan sebagian orang memberlakukan gaya hidup mewah. Manusia memiliki nafsu yang berujung pada masalah selera dan gengsi,termasuk gaya hidup mewah.
Dari kasus di atas kita bisa menyimpulkan bahwa anggota DPR hanya mementingkan gaya hidup mewah dari pada mementingkan rakyat yang membutuhkan bantuan dalam segi apapun. Sudah terbukti masuk ke DPR untuk mencari materi yang berlebih dan gaya hidup yang bermewah-mewah.



Daftar Pustaka
http://www.anneahira.com/gaya-hidup-mewah.htm
http://zonegirl.wordpress.com/2011/11/30/pengertian-korupsi-etika-bisnis-dan-hubungan-etika-bisnis-dengan-korupsi/
http://tonymisye.blogspot.com/2011/04/nilai-nilai-individu-dan-sikap-kerja.html
http://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/05/18/gaya-hidup/
http://gilangjaelani.blogspot.com/2011/10/kepribadian-nilai-dan-gaya-hidup.html


Mempengaruhi Sikap dan Perilaku


Mempengaruhi sikap dan prilaku
Mempengaruhi sikap dan prilaku. Perilaku Konsumen menurut Schiffman, Kanuk (2004, p. 8) adalah perilaku yang ditunjukkan konsumen dalam pencarian akan pembelian, penggunaan, pengevaluasian, dan penggantian produk dan jasa yang diharapkan dapat memuaskan kebutuhan konsumen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen adalah :
Faktor Sosial
  1. Group
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).
  1. Family Influence
Keluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).
  1. Roles and Status
Seseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).

Faktor Personal
  1. Economic Situation
Keadaan ekonomi seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).
  1. Lifestyle
    Pola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)
  2. Personality and Self Concept
Personality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).
  1. Age and Life Cycle Stage
Orang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)
  1. Occupation
    Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).

Faktor Psychological
a.       Motivation
Kebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).
b.      Perception
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).
c.       Learning
Pembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).
d.      Beliefs and Attitude
Beliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).

Faktor Cultural
Nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).
a.       Subculture
Sekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).
b.      Social Class
Pengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).

Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan.

Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:
  1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga). Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.
  2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk
  3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelian (Engel, F. James, et.al , 2001, pp.127-128)

sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html